Ukhuwah Islamiyah

I only hope I can be half as good a friend to you. It's people like you who make a difference in this world!

Saturday, October 10, 2009

If Tomorrow Never Comes

Seandainya Esok Tak Pernah Datang
(Norma Cornett Marek)


Andai aku tahu ini saat terakhir aku melihatmu terlelap,

Aku akan memeluk erat dirimu, aku akan memohon kepada Tuhan ‘tuk melindungimu.

Andai aku tahu ini saat terakhir aku melihatmu kau meninggalkan rumah,

Aku akan memeluk dan menciummu, memanggilmu serta memeluk dan menciummu sekali lagi.
Andai aku tahu ini saat terakhir aku mendengar seruan doamu,

Aku akan merekam setiap gerakan, setiap tatapan, setiap senyuman, setiap ucapanmu,

Agar aku dapat mendengarnya lagi, setiap hari.

Andai aku tahu ini saat terakhir,

Akan kuluangkan waktu mengatakan kepadamu “Aku mengasihimu” meski kau sudah mengetahuinya.

Andai aku tahu ini saat terakhir kita, momen terakhir kita,

Aku akan di sisimu, berada bersamamu sepanjang hari daripada berpikir
“Ah, aku yakin kesempatan lain akan datang, jadi kubiarkan saja hari berlalu.”

Tentu saja akan ada hari untuk memperbaiki segala hal,

Dan kita akan punya kesempatan kedua untuk melakukan segala hal dengan benar.

Ah, tentu saja akan ada hari lain bagi kita untuk mengucapkan, “Aku mengasihimu.”

Dan tentu saja akan ada kesempatan lain untuk saling mengatakan, “Dapatkah aku membantumu?”
Namun bagiku, tak ada lagi kesempatan itu!

Kau tak lagi ada di sisiku, dan sekarang adalah hari terakhir kita—perpisahan kita.

Karenanya aku ingin mengatakan betapa aku mengasihimu

Aku berharap kau tak melupakan itu.

Esok tidak dijanjikan kepada siapa pun, tua maupun muda.

Hari ini mungkin menjadi kesempatan terakhirmu untuk memegang erat tangan orang yang kaukasihi dan menunjukkan perasaanmu.

Jika kau menanti hari esok, mengapa tak kau lakukan sekarang?

Karena jika hari esok tak pernah datang, kau pasti akan menyesalinya seumur hidupmu

Tak ada waktu lagi untuk senyuman, percakapan, pelukan, ciuman,

Karena kau terlalu sibuk memberi orang itu apa yang menjadi harapan terakhirnya.

Karenanya peluklah erat orang yang kau kasihi, teman-temanmu, keluargamu,

Dan bisikkan di telinganya betapa kamu sangat mengasihinya, dan ingin mereka berada dekat denganmu.

Gunakan waktumu untuk mengatakan
“Maaf,”
“Silakan,”

“Maafkan aku,”

“Terima kasih,”

Atau bahkan
“Itu tidak perlu,”
“Tak apa-apa.”

Karena jika hari esok tak pernah datang, kau tak perlu menyesal sekarang.

Masa lalu tak dapat kembali, dan masa depan mungkin tak akan datang!



Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari, kita bahkan tidak tahu apakah kita masih punya cukup waktu sampai besok. Esok tidak dijanjikan kepada siapa pun, jika kita menunggu hari esok, mengapa tidak melakukannya sekarang? Kenapa masih menundanya? Baik itu menyampaikan amanah, mengerjakan tugas, atau bahkan melakukan hal-hal yang sederhana seperti meminta maaf dan mengucapkan terima kasih. Hal-hal sederhana yang sering kita lupakan...

Menunda pekerjaan akan sangat merugikan. Ana ada pengalaman ketika harus mengerjakan beberapa tugas dan esok harinya ada ulangan. Larut malam baru selesai semua tugas dan ana terlalu lelah untuk belajar. Ana bahkan tidak membuka bahan ulangan sama sekali karena ana pikir masih ada cukup waktu jika ana bangun pagi sebelum subuh dan belajar. Tapi ternyata ana masih kalah dengan syetan, ana tertidur dan tidak bisa bangun tepat waktu. Akhirnya, semua berjalan tidak sesuai dengan yang ana harapkan. Tetapi waktu tidak bisa diulang, penyesalan selalu datang di belakang. Andai saja ana teruskan belajar malam itu.... Meskipun payah, meskipun lelah... Ana masih bisa istirahat sebentar setelah mengerjakan tugas, lalu melanjutkan belajar...

Hm, seandainya saja....

Ikhwah fillah, suatu saat nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban untuk apa saja waktu yang telah ALLOH berikan semasa di dunia. Simaklah ayat berikut ini;

”Allah bertanya, berapa tahunkah lamanya engkau tinggal di bumi? Mereka menjawab, kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyalah kepada orang-orang yang menghitung.” (QS Al-Mu’minun [23]: 112- 113).

Ayat di atas menunjukkan orang-orang yang tidak mengetahui pentingnya waktu seakan-akan hanya hidup sehari atau setengah hari, karena mereka tidak memahami arti umur, tidak mampu menguasai dan mengisinya dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat.

"Tidak bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan. tentang hartanya darimana dia dapatkan, dan untuk apa dia infakkan. tentang badannya untuk apa dia kerahkan. " (Dikeluarkan Imam At Tirmidzi (2417) dan dia menshahihkannya)

Selagi masih ada waktu dalam hidup ini, selama masih diberi kesehatan dan kesempatan, marilah kita isi dengan beribadah dan berbuat kebajikan. Agar sisa umur ini manfaat, agar kehadiran kita di dunia tidak menjadi riak dan sampah, agar kita bisa menciptakan dunia yang damai...
Mulailah dari hal-hal yang kecil... "Maaf' dan "Terima Kasih".

Wallahu a'alam bis showab!

0 comments: