" Tidak melakukan apa-apa adalah pekerjaan yang bisa dilakukan siapa saja "
Setujukah antum dengan pameo di atas?
Sebagian besar mungkin 'Ya!'.
Dalam kehidupan sehari-hari acap kali kita menjumpai seseorang yang kerjanya cuma nongkrong plus nglamun aja, padahal di sekitarnya banyak orang yang butuh bantuan. Waktu ditanya 'lagi apa?', jawabannya pasti gak jauh-jauh dari 'lagi gak ada kerjaan' atau 'tau nih mau ngapain'. Naudzubillah!
Itu dari kalangan non ikhwah, tapi gak berarti kalangan ikhwah lantas selamat dari kritik lho...! Kelihatannya sih selalu sibuk ngurusin umat, dakwah sana -sini, nyiapin itu ini, syuro di mushola, berangkat pagi pulang malam, dan kesibukan lain khas ikhwah. Ana kasih contoh ya, ini dari aktivis dakwah sekolah yang biasa disebut Rohis atau SKI. Tiap hari pulang sekolah dengan dalih syuro' mereka berkumpul di masjid, bertemu dengan teman-teman seperjuangan yang juga sama-sama capek seharian belajar. Tapi apa yang terjadi? Wow! Akhwat dan akhwat bertemu malah ngomongin tentang si A si B, sepatu baru si C, drama Korea di TV, dan bla bla bla... Belum lagi waktu syuro' yang jadi molor gara-gara nungguin salah seorang anggota yang belum hadir. Terus, terlanjur ditunggu lama eh ternyata nggak datang... Udah gitu pas syuro' mau mulai pas udah kesorean. Akhirnya hasil syuro' gak maksimal, kata mufakat gak tercapai jadi terpaksa harus disambung esoknya lagi. Selesai syuro' bukannya langsung pulang dan istirahat eh malah nongkrong di mushola sambil ngobrol-ngobrol gak karuan. Sampai rumah bukannya belajar dan ngerjain tugas malah tiduran, terus besoknya keteteran. Klo udah gini mau gimana lagi coba? Udah badan capek, belai-belain pulang malam tapi hasilnya NOTHING.
Naudzubillah!
Akhi wa ukhty... Banyak orang yang berniat ibadah tapi pada akhirnya tidak mendapatkan apa-apa. Kita hanya punya 24 jam sehari. Belum tentu kita punya kesempatan 24 jam lagi esoknya. Ingat puisi Norma Cornett Marek bahwa hari esok tidak dijanjikan pada siapa pun, tua maupun muda. Jadi bagaimana pun caranya semaksimal mungkin waktu 24 jam itu bisa bermanfaat. Kalau aktivis dakwah sekolah masih melakukan hal di atas, pengorbanan antum semua akan sia-sia. Meskipun kelihatan sibuk tapi sebenarnya TIDAK ADA KERJAAN.
Pastinya tidak mau kan hal ini terjadi?
Apa yang kita lakukan akan 'menyimbolkan' kepribadian kita. Menyimbolkan bagaimana kita bekerja dan memanfaatkan waktu. Tergantung pada kita bagaimana membangun simbol tersebut, jangan sampai orang lain yang menge-judge lebih dulu. Pernahkah antum menggambar simbol diri antum di atas kertas? Sebuah gambar yang merepresentasikan diri antum saat ini? Mungkin sebagian menolak untuk melakukan ini. Meskipun dalam Islam tidak dikenal adanya simbologi seperti halnya dalam agama Buddha, tapi secara psikologi etos kerja kita bisa terlihat dari gambar yang kita buat.
Seperti baru-baru ini di kelas World Philosophy and Religion guru ana, Mr. Walsh, memberikan tugas kepada murid-murid untuk menggambar simbol yang melambangkan dirinya. Hampir semuanya melakukan tugas dengan serius dan tekun, masing-masing bangga dengan dirinya. Ana jadi celingukan sendiri melihat kerja teman-teman, kebetulan ana duduk di bangku urutan depan, jadi hampir selalu bisa melihat pemandangan sekitar ^^.
Pandangan mata ana tiba-tiba tertuju pada anak laki-laki yang duduk persis di belakang ana, Joe Manske. Kertas di hadapannya masih kosong melompong padahal sudah setengah jam berlalu! Tidak ada coretan sedikit pun, bahkan tidak ada alat tulis satu pun di mejanya. LOL! Si empunya yang punya kertas malah sibuk ngunyah permen karet dengan santai sambil ngliatin peta dunia.
"Any problem?," tanya Joe Manske waktu dia sadar ana perhatiin.
"Aaa..mmm... No! You're fine!". Sambil langsung balik badan dan melanjutkan pekerjaan.
Gila ni anak, masak dari tadi nggak kerja-kerja. Menyadari ada salah seorang anak didiknya yang berpangku tangan, Mr. Walsh turun menghampiri. Beliau berjalan mendekati deretan bangku ana dan langsung berdiri di hadapan Joe Manske.
"Are you going to draw something for me, Joe?"
"I'm done," Joe answered.
"What's this? Is this an invisible ink?," tanya Mr. Walsh lagi.
Waduh, saat dengar pertanyaan ini dalam hati ana ketawa terpingkal-pingkal. INVISIBLE INK! YEAH!
Tapi bukannya takut atau malu si Joe ini malah njawab, "My symbol is nothing".
Ana istighfar, Mr. Walsh menarik nafas panjang. "Whatever! But give me an explanation about that stuff, so I can understand what you mean".
Okay, done!
Joe Manske memang eksentrik! Dan guru-guru sudah banyak yang angkat tangan.
Sekali lagi, TIDAK ADA PEKERJAAN ADALAH PEKERJAAN YANG BISA DILAKUKAN OLEH SIAPA PUN.
Jangan jadikan 'kosong' dan 'hampa' sebagai simbol diri kita, ciptakanlah simbol yang lebih kaya. Yang lebih kreatif dan hidup!
Jangan malas-malasan dan juga jangan jadikan 'berlagak sibuk' sebagai topeng untuk menutupi kemalasan kita.
Jadikan setiap detik dalam hidup ini manfaat!
Ingat Qur'an Surah Al-Insyirah ayat 7-8 yang artinya: "Maka apabila engkau telah selesai mengerjakan satu urusan, maka bersegeralah mengerjakan urusan yang lain. Dan kepada Tuhanmulah engkau berharap".
Mulai sekarang, hilangkan kebiasaan ngrumpi saat syuro'! Hilangkan kebiasaan jam karet! Setelah selesai urusan yang satu, jangan malas-malasan untuk mengerjakan pekerjaan yang lain!
Go JIHAD! Go THOLABUL 'ILMI!
ALLOHU AKBAR!





0 comments:
Post a Comment